Di tengah kesibukan dan berbagai aktivitas yang biasa mengisi malam Ramadan, sebanyak 22 santri RG MTs Persis 3 Pameungpeuk memilih menghabiskan sepuluh malam terakhir Ramadan di masjid.
Sejak 10 Maret
2026, mereka mengikuti program Itikaf Santri 1447 H yang digelar di Masjid MTs
Persis 3 Pameungpeuk dan akan berlangsung hingga 20 Maret 2026. Program ini
menjadi tahun kedua pelaksanaan itikaf santri yang bertujuan menumbuhkan
kedekatan generasi muda dengan ibadah dan ilmu.
Bagi para santri,
itikaf bukan sekadar kegiatan menginap di masjid. Sepuluh hari terakhir Ramadan
dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian,
serta merenungi perjalanan hidup sebagai seorang muslim.
Penanggung jawab
kegiatan, Taufik Ginanjar, menjelaskan bahwa sepuluh hari terakhir Ramadan
merupakan momentum yang sangat berharga untuk pembinaan spiritual santri.
“Sepuluh hari
terakhir Ramadan adalah waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Karena itu para santri diajak meninggalkan sejenak rutinitas duniawi dan
memfokuskan diri pada ibadah, muhasabah, serta memperdalam pemahaman
keislaman,” ujarnya, Jumat (13/3/2026).
Menurutnya,
kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran bahwa masa muda
adalah waktu terbaik untuk membangun kebiasaan baik.
“Kami ingin
itikaf ini menjadi momentum upgrading bagi para santri. Mereka tidak
hanya beribadah, tetapi juga menambah khazanah keilmuan Islam, melatih
keberanian berbicara di depan umum, serta belajar menyampaikan gagasan secara
baik,” jelasnya.
Selama program berlangsung, para santri mengikuti berbagai
kegiatan seperti kajian tauhid untuk remaja, serial kajian Sirah Nabawiyah,
latihan public speaking dan dialektika santri, kajian Birrul Walidain dari
perspektif psikologi, serta kajian tematik dari Kitab Bulughul Maram.
Kegiatan ibadah
juga menjadi bagian utama dari rangkaian itikaf. Para santri melaksanakan qiyam
Ramadan, salat tarawih berjamaah, serta program khataman Al-Qur’an dengan
target tilawah tiga juz setiap hari. Kebersamaan para santri juga terbangun
melalui kegiatan iftar jama’i dan sahur bersama.
Lebih dari
sekadar rangkaian kegiatan, program itikaf ini diharapkan menjadi pengalaman
spiritual yang membekas bagi para santri. Terutama dalam menumbuhkan kesadaran
untuk menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan dan mencari keutamaan Lailatul
Qadar.
Taufik berharap
pengalaman tersebut dapat menjadi bekal berharga bagi para santri setelah
Ramadan berakhir.
“Harapannya,
pengalaman ini tidak berhenti saat Ramadan selesai. Para santri tetap menjaga
kedekatan dengan Al-Qur’an, ibadah, dan ilmu dalam kehidupan sehari-hari,”
pungkasnya.
.jpeg)
Post a Comment