Bandung, ittihad.or.id - Di tengah tantangan regenerasi organisasi Islam dan fragmentasi gerakan dakwah, Pimpinan Cabang Persatuan Islam (PC PERSIS) Kutawaringin, Kabupaten Bandung, menyelenggarakan kegiatan Tafhim pada Sabtu, 27 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Bidang Bimbingan dan Pengembangan (BIMBANG) SDI–PJ yang bekerja sama dengan Badan Pendidikan dan Pelatihan Kader (Badiklat Kader) PP PERSIS.

Berlangsung di Aula Kantor Bersama PC PERSIS dan badan otonom, Tafhim diikuti oleh 49 peserta yang berasal dari beragam lapisan struktur jam’iyyah: ketua pimpinan jamaah, unsur tasykil pengurus cabang, hingga penasehat senior berusia di atas 60 tahun. Kehadiran para tokoh senior—di antaranya H. Asep Saepudin, M.Pd., H. Luqman Hakim, dan H. Iriana Sopyan—menjadi penanda penting kesinambungan ideologis dan etos jam’iyyah lintas generasi.

Kegiatan dibuka oleh Wakil Ketua II PD PERSIS Kabupaten Bandung, Ustadz H. Ahmad Haedar Sy. Dalam sambutannya, ia menempatkan Tafhim bukan sekadar agenda rutin, melainkan bagian dari upaya sistematis memperkuat fondasi ideologi organisasi di tingkat cabang. Ia juga menegaskan bahwa PC PERSIS Kutawaringin menjadi cabang terakhir yang melaksanakan Tafhim pada tahun 2025, setelah sebelumnya digelar di beberapa cabang lain di Kabupaten Bandung.

Ketua Panitia, Ustadz Zamzam Almuzani, menekankan bahwa keterlibatan kader senior sebagai peserta aktif memiliki makna strategis. “Ini bukan semata kehadiran simbolik, tetapi pesan kuat bahwa kaderisasi dan pembelajaran ideologis tidak berhenti pada usia atau jabatan,” ujarnya. Menurutnya, semangat belajar lintas generasi inilah yang perlu direplikasi di cabang-cabang lain.

Secara substantif, Tafhim merujuk pada empat materi inti yang menjadi rujukan kaderisasi PERSIS, yakni: Tauhid sebagai Dasar Perjuangan (Ustadz Koswara, S.Pd.), Jihad melalui Jam’iyyah (Ustadz H. Hamdan Abu Nabhan), Sejarah PERSIS (Ustadz Zamzam Almuzani), serta Karakteristik Ibadurrahman (QS. al-Furqan: 63–77) yang disampaikan oleh Ustadz M. Syarif Hidayat.

Keempat materi tersebut dirancang untuk memperkuat pemahaman ideologis kader, menegaskan militansi dakwah yang berakar pada tauhid, serta membingkai kerja organisasi sebagai bagian dari ibadah kolektif. Dalam konteks kekinian—ketika gerakan Islam dihadapkan pada pragmatisme, polarisasi, dan krisis keteladanan—Tafhim menjadi ruang refleksi untuk menata ulang orientasi perjuangan jam’iyyah.

Kegiatan berlangsung hingga sore hari dengan format pembelajaran yang dialogis dan partisipatif. Seluruh rangkaian dikawal oleh Badiklat Kader PP PERSIS melalui Ustadz Didin Saepudin, M.Ag., yang sekaligus bertindak sebagai instruktur dan penilai pelaksanaan.

Menutup kegiatan, Ketua PC PERSIS Kutawaringin, Ustadz Koswara, menegaskan harapan agar Tafhim tidak dipahami sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai ikhtiar berkelanjutan dalam membangun barisan dakwah yang kokoh. “Pembinaan kader tidak mengenal usia maupun level kepemimpinan. Di sanalah kekuatan jam’iyyah diuji dan dirawat,” ujarnya. []

Post a Comment

Previous Post Next Post